Lonceng Senja Untuk Santri
Di pesantren, 03.00 WIB.Desir angin menyentuh lembut wajahku, membangunkanku dari sisa-sisa mimpiku. Aku menelusuri pandangan pada setiap sudut asramaku. Kemudian beralih ke arah jam dinding yang terus berdenting. Aku beranjak, mengambil wudu. Dingin, namun rinduku mampu menepisnya.
Setiap subuh, denting lonceng tua di Pesantren Al-Hikmah selalu terdengar sebelum cahaya pagi benar-benar lahir. Menciptakan semburat indah seperti menyapa dan tersenyum. Bunyi itu membangunkan semangat dan antusiasme para santri, termasuk aku. Namaku Faris, seorang santri tingkat akhir yang mulai memahami arti tinggal dan pergi.
Aku berjalan menuju masjid dengan langkah pelan. Menyamai langkah dengan temanku yang lain. Di tanganku, kitab kuning yang sampulnya mulai kusam kupeluk seperti sesuatu yang berharga. Aku tahu, di pesantren, kitab bukan hanya sumber ilmu, melainkan rahim kesabaran.
Di bawah cahaya lampu masjid yang redup, seluruh santri berkumpul dengan kitab dan sisa-sisa kantuk yang mereka bawa. Aku duduk bersila, menunggu Kiai datang dengan kepala sedikit tertunduk.Aku teringat, pernah dihukum menyapu halaman karena terlambat berjamaah. Aku belajar bahwa itu membentukku pada kedisiplinan, bukan hukuman. Seperti bentuk kasih yang tidak selalu lembut.
Aku juga mengambil pelajaran pada hari-hari ketika aku rindu rumah. Rindu masakan ibu dan suara radio di ruang tamu. Namun setiap kali rindu itu datang, aku kembali mendapati diriku pada sebuah kesadaran: Pesantren sedang membentukku pelan-pelan, tanpa tepuk tangan.Pesantren mengajarkan keteraturan yang sunyi. Tidak ada suara gaduh berlebihan, tidak pula keluhan yang dibiarkan lama.
Suasana pagi mulai bising, antara suara khas pesantren dengan kicau burung yang riang. Kajian masih berlangsung, aku mendengar Kiai berkata bahwa "ilmu tidak akan menetap di hati yang sombong." Kalimat itu memang tidak kucatat di buku, tetapi tersimpan di dada. Sekali lagi aku mendapat sebuah pelajaran sebelum benar-benar keluar dari pesantren. Bahwa aku harus belajar menerima lelah sebagai bagian dari ibadah.
Waktu kelulusan semakin dekat, aku tersenyum kecil, berdiri sembari memandangi halaman pesantren yang pernah ku sapu berulang kali. Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu luput dari pandangan: suara sapu lidi yang diseret di halaman selepas ashar, tawa santri baru yang masih canggung melafalkan doa, dan aroma kayu basah dari rak sandal masjid ketika hujan turun tiba-tiba.
Ternyata pesantren tidak menjanjikan kemewahan, tetapi memberiku cara pulang kepada diriku sendiri—dengan adab, dengan sabar, dan dengan hati yang tidak mudah merasa paling tahu.
Di serambi pesantren, aku masih diam menikmati sore setelah mengkaji kitab kuning. Seseorang menepuk pundakku pelan. Aku menoleh ke belakang, menunduk dengan segera.
"Faris, bisa temani saya ke maktabah?"
Aku mengangguk antusias. Seraya tersenyum, aku beranjak dari dudukku, mengikuti Kyai yang hendak berlalu.
Kami sampai di maktabah. Rak-rak kayu tinggi berdiri sunyi, dipenuhi kitab-kitab tua yang namanya sulit ku baca tanpa mengeja pelan. Berjejer mulai terlihat usang.
Kyai berhenti disalah satu rak, menarik sebuah kitab, lalu menyerahkannya padaku tanpa banyak kata. Aku tertegun sebentar, di sampulnya tertulis nama penulis yang sama sekali tak ku kenal. Tetapi halaman-halamannya penuh catatan tangan. Antik dan klasik.
"Ilmu itu hidup," ujar Kyai akhirnya. "Ia berpindah dari tangan ke tangan, dari hati ke hati. Tugasmu hanya menjaganya."
Kalimat itu membuat terdiam. Aku sadar, selama ini aku terlalu sibuk menghitung waktu kelulusan. Lupa bahwa pesantren bukan sekadar tempat singgah, melainkan tempat titipan. Lupa bahwa, menjadi santri bukan tentang siapa yang paling cepat selesai, melainkan siapa yang paling siap membawa pulang nilai-nilai pesantren ke luar pagar.
***
Malam itu, aku duduk lebih lama di masjid. Kulihat bulan menerang, menyinari sebagian pelataran masjid. Aku membuka kitab, bukan untuk mengejar target hafalan, tetapi untuk membaca dengan tenang. Di luar, hujan jatuh perlahan, seolah ikut melantunkan doa. Aku merasakan sesuatu yang asing sekaligus akrab: rasa cukup.
Beberapa pekan kemudian...
Pada hari sebelum perpisahan, aku berdiri di baris santri akhir. Ketika lonceng subuh dipukul untuk terakhir kalinya dalam statusku sebagai santri, aku merenung sejenak. Denting itu, kini tidak lagi membangunkanku dari tidur, tidak membuatku beranjak ke masjid untuk mengaji bersama Kyai. Tetapi membangunkanku dari keterpurukan hidup.
Aku melangkah keluar gerbang pesantren dengan tas sederhana. Tidak membawa banyak barang, hanya kitab, doa, dan pelajaran tentang pulang - bukan ke rumah semata, melainkan ke hati yang tahu batas dan arah.
Posting Komentar untuk "Lonceng Senja Untuk Santri"