Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin

                                                                     Asrama Lama

Pondok pesantren Roudlotut Tholibin atau  Pondok Kareng didirikan oleh Kyai Faqih Bin Alawi Bin Samlawi Bin Alawi Bin Abdurrohman Bin Pangeran Kidul Bin Sunan Giri yang akrab dengan julukan bujuk Pakis. Dilihat dari nasabnya, Beliau masih keturunan Raden Ainul Yakin, atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Giri. Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin terletak di Jalan KH Fadhol No. 970 Kelurahan Kademangan, Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo. Dulunya, Desa Kademangan berada di Kecamatan yang disebut Sumber Kareng, dan sampai saat ini banyak sekali masyarakat mengenal dan menyebutnya Pondok Kareng.

Tujuan Pendirian

            Berdirinya Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin dikarenakan kerisauan Kyai Abu Tholib (bujuk randuh) yang menetap di desa Jrebeng Lor Kec. Wonoasih terhadap kehidupan masyarakat Kademangan saat itu. Rampok, Sabung ayam, perjudian, mabuk-mabukan adalah sedikit dari berbagai larangan yang menjadi keseharian masyarakat disana. Akhirnya Desa ini dikenal dengan sebutan Desa Mices, yaitu desa yang dipenuhi sarang maksiat dan kemungkaran.
            Kemudian Kyai Abu Tholib meminta Kyai Faqih untuk memberikan pembelajaran keagamaan di desa ini. Hal ini dikarenakan tidak adanya tokoh yang representatif yang dijadikan panutan, sehingga masyarakat tidak terarah dan mayoritas berkutat dalam kemaksiatan. Kyai Faqih mengamini permintaan Kyai Abu Tholib yang merupakan saudaranya. Setelah itu, untuk mensukseskan jalannya dakwah, Kyai Faqih diberikan sebidang tanah di sekitar Masjid Al Mubarok oleh saudaranya yang lain yang dikenal dengan nama Bujuk Singosari dari Desa Pohsangit Leres.
            Sedikit demi sedikit akhirnya beliau menjalankan tugasnya. Pada awalnya beliau mendirikan sebuah musholla kecil untuk membimbing masyarakat kembali ke jalan yang benar. Sedikit banyak terdapat penolakan, namun Beliau mampu mengatasinya. Hal ini dikarenakan penyimpangan masyarakat di kala itu lebih karena tidak tersentuhnya diri mereka oleh cahaya keagamaan. Setelah kedatangan Kyai Faqih masyarakat disana mulai sedikit membaik dan banyak sekali yang lebih memilih jalan ilahi yang diarahkan oleh beliau. Musholla yang dibangun oleh beliau inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinaya Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin.
Tahun Berdiri dan Riwayat Pengasuh
Tahun berdirinya pondok pesantren ini tidak diketahui secara pasti. Namun, wafatnya Kyai Faqih (Tahun 1875 M/ 1296 H) yang kemudian di anggap sebagai bukti kuat berdirinya pesantren. Pada mulanya, setelah wafatnya Kyai Faqih. Pimpinan pesantren di berikan kepada Kyai Anom yang merupakan menantu dari Kyai Faqih. Dan setelah itu di lanjutkan oleh menantu Kiai Anom yaitu Kiai Mushohib yang oleh masyarakat sekitar di kenal dengan nama Kyai Gedangan.

                        Musholla Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin dibangun oleh Kyai Faqih

Kyai Mushohib (Kyai Gedangan)

           Di masa Kyai Gedangan ini terdapat banyak permintaan dari masyarakat, agar didirikan pemondokan-pemondokan bagi para santri, sehingga di masa ini mulai terdapat santri yang menetap dari masyarakat sekitar. Kemudian terus berkembang dan banyak santri yang berdatangan dari berbagai daerah sekitar probolinggo, lumajang, pasuruan, situbondo, jember, dan kota-kota lain. Dari beliau inilah kemudian melahirkan santri-santri yang nantinya menjadi kyai dengan jumlah santri dan pengaruh kuat pada masyarakat. Salah-satu contohnya ialah Kyai Syarifudin (Pengasuh Ponpes Wonorejo, Lumajang), Kyai Hamid di jalan Abdul Hamid Kota Probolinggo dan lain sebagainya.

Kyai Fadhol

            Setelah wafatnya Kyai Gedangan, selanjutnya pimpinan pengasuh pesantren di berikan kepada Kyai Fadhol putra dari Kyai Gedangan. Pasca meninggalnya kyai gedangan Kyai Fadhol tidak berkenan mengopeni santri, dan pada akhirnya santri yang menetap pulang ke daerah masing – masing.  bahkan, jumlah santri yang menetap hanya 2 santri saja. Karena di masa Kyai Fadhol ini pondok pesantren tidak terurusi dan beliau punya keanehan tersendiri yang di maksud dengan Khoriqul ‘adah yang di yakini oleh masyarakat sekitar, bahwa Kyai Fadhol adalah seorang Waliyullah. Kewaliyan Kyai Fadhol ini sudah tidak di ragukan lagi, karena melihat dari banyaknya informasi yang datang dari kalangan Ulama’, Kyai, Tokoh dan masyarakat bahkan Kyai Abdul Hamid pasuruan sering menyebut bahwa Kyai Fadhol ini adalah seorang Waliyullah.
                                                               Al-Arif Billah KH. Fadhol

Kyai Ahsan Baqir dan Kyai Bisri

            Keadaan Kyai Fadhol yang Khoriqul Adah tersebut, kepengurusan Ponpes di bantu oleh Kh Ahsan Baqir. Namun beliau tidak berumur panjang dan wafat dalam usia yang relatif muda. Setelah itu, kepengurusan pesantren diserahkan kepada keponakannya yakni Kyai Bisri. Kyai Bisri wafat pada tahun 1947,

Kyai Shodik, Kyai Hamid, dan Kyai Zaed

Setelah wafatnya Kyai Bisri, kepengurusan pesantren selanjutnya diserahkan pada suami dari adik beliau yaitu Kyai Shodik. Akan tetapi, kemudian Kyai Shodik pindah tempat dan di lanjutkan oleh Kyai Hamid (putra dari Kh Ahsan Baqir). Setelah Kyai Hamid, kepengurusan pesantren di serahkan pada Kh Zaed (menentu Kyai Ahsan Baqir ) yang wafat pada tahun 1961, setelah beliau inilah kepengurusan pesantren mulai vakum dan seperti kota mati.

Kyai Abdul Mujib Abdullah

Dalam perjalanannya Kyai Fadhol, pada tahun 1963 beliau mengambil pengasuh seorang menantu yang bernama Mas Babun Khoir dari Jrebeng Lor yang notabene masih saudara dekatnya. Menjadikan Mas Babun Khoir sebagai menantu ini agar bisa menggantikan posisi Kyai Fadhol.
Pada tahun 1970 Kyai Fadhol kedatangan banyak tamu dan pada saat itu Kh Fadhol mengajak seluruh tamunya untuk shalat dhuhur berjamaah, setelah selesai Kyai Fadhol langsung berdiri dan menyampaikan pidato yang isinya menyerahkan sepenuhnya kepengurusan Ponpes kepada menantu yang bernama Mas Babun Khoir. 
Setelah penyerahan mandat ini, Mas Babun Khoir langsung melaksanakan apa yang diamanahkan oleh Kyai Fadhol. Alumni Pondok Pesantren Sidogiri dan Ploso ini kemudian membuka kajian Kitab Kuning kepada 2 santri yang tersisa, satu yang menetap di pondok dan yang satunya tetangga pondok.
            Suatu ketika Mas Babun Khoir sedang mengaji kitab bersama para santrinya yang mulai banyak, tiba-tiba Kyai Fadhol nimbrung mengikuti pengajian tanpa sepengetahuan Mas Babun, beberapa menit kemudian Mas Babun Khoir menyadarinya. Sejenak Mas Babun Khoir menghentikan bacaan kitabnya karena sungkan dengan kedatangan beliau. Tapi kemudian Kyai Fadhol memerintahkan untuk melanjutkannya seraya dawuh dalam bahasa Madura: “Ma’ ambu ngajih cong? dinah lah teros agi pon, sengko’ ngajieh kiyah kantoh”. Atau dalam bahasa Indonesia “Kenapa kajiannya dihentikan Nak? Lanjutkan saja, saya disini datang untuk ngaji juga.” Dengan penuh rasa sungkan Mas Babun melanjutkan kajiannya sampai selesai.
            Pada Tahun 1971, Mas Babun Khoir melaksanakan ibadah haji, setelah itu kemudian Mas Babun Khoir diberi nama KH Abdul Mujib Abdullah. Beliaulah pengasuh yang ditunjuk langsung oleh Kyai Fadhol dan merupakan pertama yang mengembangkan Pondok Kareng sampai hari ini.


Perkembangan PP Roudlotut Tholibin

            Dalam perkembangannya Ponpes Kareng  diberi nama secara resmi PP. ROUDLOTUT THOLIBIN oleh KH Abdul Mujib Abdullah. Setelah diambil menantu pada tahun 1970, beliau langsung merintis pendidikan formal yang bernama MI. IHYAUL ISLAM dan terus meningkatkan dan memperkuat kinerja pendidikan madrasah diniyah.
Di tangan gigih beliau, kemudian mulai berdatangan santri yang menetap baik dari dalam kota maupun luar kota yang jumlahnya memang tidak terlalu banyak, antara 25-75 santri dan tiap tahunnya pasang surut. Dan setelah MI berdiri, pada tahun 1980 beliau merintis lembaga pendidikan lagi yang bernama MTs. ROUDLOTUT THOLIBIN dalam proses pendirian pendidikan formal ini, tantangan dan godaannya sangat besar baik dari internal maupun eksternal. Namun, beliau KH Abdul Mujib sama sekali tidak menghiraukan godaan tersebut. Bahkan, beliau cenderung terus melanjutkan keinginannya untuk membesarkan PP. Roudlotut Tholibin. 



                                 KH. Abdul Mujib Abdullah saat mengajar para santrinya

Walaupun banyak aral dan rintangan yang menghalangi, tekad beliau tidak pernah memudar. Alasan beliau sangat kuat dalam mengembangkan pendididkan formal, yang dianggap sebagian orang akan mengancam keberlangsungan terhadap pendidikan diniah dan majlis ta’lim lainnya. Hal ini didasari oleh tekad beliau agar para santri juga melek pendidikan formal agar nantinya mampu menjadi orang-orang yang memiliki peranan penting dalam berbagai aspek. Selain itu, tujuan mulia beliau yang tidak banyak dilihat orang ialah agar orang tua yang memiliki orientasi pendidikan formal dapat memondokkan anaknya di pesantren ini, sehingga pada akhirnya mereka pun akan dididik kajian kitab kuning. Strategi jenius inilah yang tidak banyak  dilihat orang, namun beliau sangat faham akan hal ini.

 Setelah KH Abdul Mujib berhasil mendirikan Madrasah Tsanawiyah yang memiliki banyak siswa baik dari kalangan santri sendiri maupun masyarakat sekitar, kemudian pada tahun 1987 KH Abdul Mujib merintis lagi pendidikan formal tingkat SLTA yang bernama MA. Wahid Hasyim (WAHASY), tujuan didirikan MA ini yaitu untuk memberi peluang kepada siswa Madrasah Tsanawiyah supaya melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Selain itu agar para santri yang ingin melanjutkan pendidikan tidak harus keluar pondok dan tetap melanjutkan kajian kitab kuningnya.
Perkembangan jumlah siswa WAHASY dari tahun ke tahun semakin meningkat. Dari keadaan inilah kemudian beliau berencana merintis Sekolah Menengah atas pada tahun 1996. Namun rencana ini diurungkan karena ada tawaran dari Lembaga Pendidikan Ma'arif NU (LP Ma'arif NU) Kota Probolinggo untuk mengambil alih SMA Sunan Giri (SMAGI) yang pada waktu itu pendidikan tersebut kekurangan murid. Pemberian mandat ini bertujuan agar pendidikan tersebut tidak mati.
Gedung pertama kali SMAGI terletak persis di selatan Masjid Agung kota Proboliggo sehalaman dengan SMP Sunan Giri. Kemudian setelah  diambil alih oleh KH Abdul Mujib, maka gedung tersebut dipindah ke Jl. Prof. Dr. Hamka, Kademangan, Kota Probolinggo.
Pemindahan tempat tersebut akhirnya, terjadi pemisahan antara santri putra dan puteri. SMAGI dikhususkan untuk santri putera, dan WAHASY dikhususkan untuk santri puteri. Kedua lembaga kini terus berkembang pesat sampai saat ini seiring dengan mulai bertambahnya santri PP Roudlotut Tholibin.
Pada tahun 2015 Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin (YASSARO) merintis Sekolah Menengah Kejuruan yang diberi nama SMK Sunan Giri yang fokus dalam bidang otomotif. Tujuan didirikan pendidikan ini adalah untuk memberi peluang kepada santri yang tidak ingin melanjutkan ke perguruan tinggi agar jika santri tersebut lulus atau berhenti dari ponpes mempunyai bekal yaitu bisa langsung berwirausaha atau bekerja.
                                                         Sebagian gedung baru di Pondok Putra

Kedepannya, menurut ketua YASSARO Gus Abdullah Zabut, YASSARO akan fokus mendirikan perguruan tinggi, selain agar para santri bisa melanjutkan jenjang pendidikan formal juga agar para santri tetap melanjutkan kajian kitab kuningnya. Kitab kuning di YASSARO adalah harga mati yang tidak bisa diubah atau dialihkan meskipun hanya beberapa centi. 

                                 Santri PP. Roudlotut Tholibin saat mengikuti ucapara Hari Santri Nasional 2017

Saat ini YASSARO sudah memiliki lembaga pendidikan mulai dari PAUD sampai Sekolah Menengah Atas dan tentunya pendidikan diniyah yang berbasiskan salaf. Harapan terbesar para pengasuh, asatidz, guru-guru, dan seluruh jajaran pengurus YASSARO agar para alumni lembaga ini mampu menjadi insan yang memiliki kompetensi, kontribusi, dan integritas yang baik dalam segala aspek kehidupan masyarakat, baik ketika menjadi kyai, diplomat, wakil rakyat, pengusaha, petani, pedagang, guru, pegawai, dan profesi lainnya. Kompetensi, kontribusi, integritas adalah tiga kunci penting yang menjadikan seseorang mampu menjadi pribadi sukses apapun profesi yang digelutinya.

1 komentar untuk "Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin"

  1. Smoga smkin berkmbang...dan apa yg tlah qta dpatkan dsini bsa brmanfaat

    BalasHapus

Berlangganan via Email