Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ngabdi : Sebuah Bentuk Pilihan Rasional Seorang Santri


 Berbicara mengenai santri, maka yang terbesit dalam benak kita adalah ngaji, kemudian ngabdi. Ketiga hal tersebut (Santri, Ngaji, Ngabdi) semacam paket komplit yang harus ada dalam penyebutannya. Tidak dapat kita pungkiri, dalam ranah pondok pesantren ketiga hal tersebut hanya dapat di sandang langsung oleh segelintir individu yang bertajuk sebagai seorang santri. Mengapa demikian ? Jika kita berkaca terhadap fakta sosial yang ada di ranah pondok pesantren, individu yang bertajuk santri tadi, ialah orang yang ikut ngaji atau taklim di pesantren dan juga mukim. Hal yang demikian merupakan penjelasan yang lumrah didengar jika berbicara mengenai definisi santri. Terdapat juga individu yang diberi tajuk santri kalong, sebab ia hanya ikut ngaji atau taklim tanpa bermukim di pondok pesantren. 


Beralih ke pembahasan selanjutnya, sebagai seorang santri, baik kalong maupun mukim. Ngaji adalah tujuan utama mereka berada di ranah pondok pesantren tersebut, dalam kata ngaji mengandung berbagai kegiatan taklim yang dikemas dalam jadwal rutin kajian kitab sorogan, dengan di tandai dengan bunyi bel sebagai tanda akan di mulainya kajian kitab rutin tersebut. Kitab yang dikaji tentunya disesuaikan dengan tingkatan kelas para santri yang meliputi : Diniyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Agar kitab yang dikaji dapat di pahami dan di serap dengan maksimal. 




Pada awal pembahasan, penulis menyinggung tentang Ngabdi, yakni satu hal yang identik dengan kehidupan santri dalam memburu berkah selain dengan cara Ngaji. Ngabdi atau Ngabulâ dalam bahasa madura merupakan suatu bentuk bakti santri terhadap kiai, baik pengasuh, lingkup keluarga pesantren, maupun pada pesantren itu sendiri. Pengabdian santri dilatar belakangi oleh harapan mendapat barokah dan juga memberikan sebuah dedikasi terhadap gurunya yang telah memberi ilmu dan memberikan bekal hidup terhadap dirinya sebagai seorang murid. 



Konsep pengabdian di pesantren kadang bertabrakan dengan kegiatan pribadi santri. Misal ketika dia memiliki kewajiban untuk ngaji, namun ketika dibutuhkan tenaganya dalam urusan tertentu, dia akan segera beranjak untuk menunaikan dedikasinya dalam pengabdian. Dalam perspektif sosiologis, hal yang disebut dengan istilah altruisme yaitu perhatian seseorang terhadap kesejahteraan orang lain melebihi diri kesejahteraan pribadi. Seperti yang dikemukakan oleh Aguste Comte bahwa altruisme adalah Living for other atau hidup untuk orang lain. Comte menekankan bahwa altruisme merupakan prasyarat moral bagi terbitnya zaman positivisme; zaman di mana manusia mencapai tingkat tertinggi dalam rasionalitasnya.


Dalam pengabdian kerap kali terjadi trade off antara mendahulukan Ngaji atau Ngabdi. Pilihan berat melakukan satu hal dan meninggalkan hal lain ini kerap menjadi problematika dalam kehidupan khodam (santri yang Ngabdi). Namun mungkin apa yang disampaikan Gus Miek berikut bisa menjadi solusi, beliau pernah berkata kepada khodamnya “ Mbah (murid Gus Miek), kamu itu ketika mengaji, jika dipanggil ayah, ibu, atau putra-putra ayah, siapa saja itu, jangan menunggu selesai Ngaji, langsung ditaruh saja kitabnya, lalu menghadap dengan niat mengaji”.



Dilihat dari kacamata ilmu sosiologi pilihan pengabdian yang dilakukan santri dilakukan secara rasional. Dimana mereka  sebagai aktor sosial melakukan sebuah tindakan berdasarkan kemampuan (sumber daya) yang bisa dilakukannya. Pada ruang lingkup Ngabdi atau Ngabulâ santri dalam hal ini memiliki berbagai sumber daya manusia, atau kemampuan yang masing-masing berbeda. Terdapat santri yang punya kemampuan mengajar, bercocok tanam, memasak, menyetir mobil dan lain sebagainya. Jadi dapat kita simpulkan bahwa pilihan rasional santri untuk mengabdi lebih karena mereka percaya atas konsep barokah dan melatih diri menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain. Mungkin kutipan berikut bisa menggambarkan: “a behavior intended to benefit another, even when this risk possible sacrifice to the welfare of the actor” (Monroe 1996:6) Monroe menyatakan bahwa perilaku yang dimaksudkan untuk menguntungkan orang lain, meskipun ketika ada risiko memungkinkan pengorbanan kesejahteraan pada pelakunya. Akhirnya, selamat menjadi santri tetap mengaji dan mengabdi dengan loyalitas tanpa batas.


Bangkalan, 25 Januari 2021

Oleh : Muhammad Irzam Zam, Mahasiswa Sosiologi Universitas Trunojoyo Madura

Posting Komentar untuk "Ngabdi : Sebuah Bentuk Pilihan Rasional Seorang Santri"

Berlangganan via Email