Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ngaji Nahwu ala Amil dan I‘rob


Di sebuah desa, ada dua anak yang selalu bersama yang mana keduanya sering bermain dan ngaji bersama, yakni Amil dan I'rob, mereka berdua seperti kakak dan adik.

Pada suatu hari mereka bermain di taman,seraya makan cemilan. Di waktu saat si amil menoleh ke sebelah dan melihat kana, inna, dan donna beserta para saudaranya, yang terkenal sering mengganggu orang. 

Lantas dahi si amil mengerut Pertanda kesal, lalu si amil berkata kepada si i'rob. "hey i'rob".

"ya ada apa". Si i'rob menjawab. 

"Lihat itu ada baji-gur hah baji gur". Kata si i'rob sembari memiringkan kepalanya tidak mengerti maksud si amil.

"iya itu kana, inna-donna beserta para saudaranya". Jelas si amil 

"oh itu teman kamu". Kata si i'rob, 

lalu si amil menggelengkan kepalanya dengan kesal dia menjawab. "bukan! dia adalah perusak hubungan orang". 

Si i'rob kebingungan, "kok bisa..?". 

"Iya buktinya dia merusak hubungannya mubtada' dan khobar,". Si amil menjelaskan.

"Kalau begitu mari kita pergi dari sini Takut mereka mengganggu kita". Jawab si i'rob.

"Iya ayok kita pulang saja". Imbuh si amil. 

Sesampainya di rumah masing-masing si amil tiba - tiba menelfon si i'rob untuk mengajaknya mengaji nanti malam. 

Tiba waktu malam... 

Si amil mengambil handphone dan menelfon teman baiknya, Tanda berdering, artinya menunjukkan handphone si i'rob aktif, i'rob yang sedang duduk sambil menonton Televisi kaget dengan Suara nada dering handphone nya yang sangat keras, yang berbunyi.

 "Fa ala yaf ulu Falan wamaf alan Fahuwa Fa... ilun wadzaka maf ulun uf'ul lataf'ul maf'alun mif'alun.

kemudian si i'rob menghampiri handphone nya dan melihat nama si amil yang tertera di layarnya, si i'rob berguman di Pikirannya.

 "Ada apaya, kok Tiba-Tiba si amil menelfonku?, padahal sudah malam mana mungkin mau mengajak main lagi". 

kemudian dia mengangkatnya. "Halo". Kata si amil. 

I'rob menjawab "ya ada apa". 

"Kalau mau ngaji Jemput aku ya". Kata si amil 

I'rob menjawab. "Iya, kamu ini kukira penting".

"Kan aku yg menuntutmu, kalok gak gini kamu pasti gau bakal pergi mengaji, Pasti kamu alasan ketiduran". Si amil menjelaskan

 "Iya Juga sih". Kata si irob. 

Si amil lalu mematikan telponnya dan mulai bersiap-siap untuk Pergi ngaji, setibanya i'rob
di rumah amil, mereka berangkat bersama sama. 

Setibanya musholla mereka melihat si mubtadak dan khobar yang saling berjauhan, lalu si amil berkata pada i'rob.
"Lihat mereka, mereka korban dari bajigur". 

"Oh kana, inna dan donna beserta saudaranya". Kata si i'rob. 

"Iya..., eh aku ada ide nih bagaimana kalau kamu pergi ke sana dan Perbaiki hubungan mereka". Kata si amil. 

"Lah kok aku". Kata si 'irob. 

"Iya soalnya aku kan amil, Mubtada' gak suka pada aku". 

"Oh iya ya..., kalau begitu aku saja yang kesana". Kata si i'rob 

Setibanya di sana si irob memanggil keduanya lalu berkata "ada apa dengan kalian ini".

Mubtada' menjawab. "Ini nih si khobar". 

"Lah kok aku".kata si khobar. 

"Sudah diam! ,kalian itu di adu domba sama bajigur ". Si i'rob dengan tegas. 

"Maksudnya". Kata mereka dengan kompak.

Iya, itu si Kana, Inna, dan Donna beserta saudara-saudaranya yang sering masuk dan mengganggu hubungan kalian, benar begitu?” kata si I’rob dengan nada meyakinkan.

“Iya, benar,” jawab Mubtada’ dan Khobar serempak sambil menundukkan kepala.

Si Khobar lalu melangkah maju dan berkata lirih,
“Kalau begitu, maafkan aku ya. Aku jadi menjauh bukan karena kemauanku sendiri.”

Mubtada’ pun menghela napas dan menjawab,
“Iya, aku juga minta maaf. Seharusnya aku tidak langsung berprasangka buruk.”

Mereka pun saling tersenyum dan kembali berdiri berdekatan seperti sedia kala.

Dari kejauhan, si Amil memperhatikan dengan wajah lega. Ia tersenyum sambil berkata pelan kepada dirinya sendiri,
“Akhirnya Mubtada’ dan Khobar kembali rukun. Semoga kali ini mereka tetap bersama…”

Ia lalu menambahkan sambil tersenyum kecil,
“Selama tidak dimasuki lagi oleh si bajigur itu—Kana, Inna, dan Donna beserta saudara-saudaranya.”

Malam itu pengajian berjalan dengan tenang. 

Dari cerita ini bisa diambil pelajaran bahwa mubtada’ dan khobar itu sejatinya pasangan, tidak bisa sembarangan dipisahkan. Kalau tiba-tiba ada kana, inna, dan saudara-saudaranya masuk tanpa paham ilmunya, ya wajar kalau hubungan mereka jadi renggang. 

Maka santri harus paham peran amil dan i‘rob, supaya saat ngaji nahwu tidak asal baca dan tidak salah makna. Intinya, ngaji itu bukan cuma hafalan, tapi juga paham posisi dan adab setiap kata
 
By: Lutfi - c1

Posting Komentar untuk "Ngaji Nahwu ala Amil dan I‘rob"