Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lanjutan III Cerpen "Titik Temu"

 

Jauh jarak menjejak antara aku dan belahan jiwa. Frasa demi frasa doa aku rapal untuk dirinya yang tak ku yakin bisa digapai. Hingga selangkah lagi putus asa dengan takdirnya yang sulit aku duga. Hampir tak terlihat lagi tanda koma, yang ada hanya titik besar mengakhiri jeda. Kemustahilan sudah membayangi asa, ku coba peluk dan berdamai dengannya. Namun siapa nyana, Titik itu adalah titik temu antara aku dan dia. Siapa duga, langkah ini semakin mendekatkan jarak yang terpisah sekian lama. Siapa sangka, Tuhan akan mempererat tali asmara hamba-Nya yang percaya akan keajaiban takdir-Nya.

 

Dehaan Athaya Altezza, aku dan keluarga besarku sudah di pesawat menuju tempat tinggalmu. Hatimu pasti berdebar-debar tidak menentu. Tapi aku tetap yakin kau bisa mengaturnya sebaik yang kau mau. Aku pun sebenarnya masih menata hatiku, masih pantaskah orang sepertiku menjadi pendamping hidupku. Hal ini terus menerus menghantuiku. Namun, ibumu tak hentinya meyakinkanku bahwa akulah sosok yang kau tunggu. Sebentar lagi sayang kita akan memadu bahtera cinta yang sama sekali tak kau bayang. Aku tahu kamu sudah pasrah dan ikhlas akan calonmu. Kau menyangka itu bukan aku. Aku tersenyum kasihan melihat kau masih disiksa keraguan karena ada sudut di pikiran dan hatimu tentang aku. Tunggu lah sayang, sebentar lagi aku sampai.

 

****

 

Hari bahagia itu telah tiba. Pagi hari waktu ibadah dhuha, para tamu undangan akad nikah Dehaan Athaya Altezza bin KH Ali Murtadzo sudah memadati masjid Al Haromain. Pengantin wanita sudah hadir dengan balutan gaun mewah karya Tex Saverio dengan


 

penutup wajah yang memang sengaja didesain. Di meja akad sudah ada pihak KAU, 2 orang saksi dari masing-masing mempelai, dan KH Nidhom Baihaqi yang menjadi penghulu. Acara pun dimulai dengan didahului oleh pembukaan, doa bersama, Khutbah nikah oleh KH Mukhtar Lubis, kemudian dilanjutkan dengan ijab qobul.

 

Gus Atha melangkah dengan gagah dengan songkok hitam, sarung putih, dan setelan baju basofi yang didesain oleh Adi Rustana membuat semua mata hadirin mengikuti setiap langkah yang dijejakkan olehnya. Kemudian dia duduk menunduk. Di hatinya berkata:

 

“Ya Allah ridhoilah langkahku dalam melaksanakan ibadah terpanjang di hidupku. Tuntunlah hatiku agar bisa mengikhlaskan semua ketentuanmu. Niatku baik dan benar ya Allah, maka baikkanlah dan benarkanlah langkahku seterusnya bersama dia wanita yang saya halalkan jiwa dan raganya.”

 

“Sudah siap nak Atha?” Tanya penghulu sambil menjabat tangan Gus Atha.

 

“Insyallah, siap lahir batin paman.” Jawab Gus Atha kepada KH Nidhom Baihaqi.

 

Setelah membaca basmalah, istigfar 3 kali, dan 2 kalimat syahadat KH Nidhom memulai menikahkan Gus Atha

 

Aku menikahkanmu Dehaan Athaya Althezza Bin KH Ali Murtadzo dengan perempuan bernama Aleta Queenna Cartwrigh binti Arthur Gaffrey Cartwright yang walinya mewakilkan padaku dengan maskawin satu set perhiasan, Al quran, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.”

 

Gus Atha yang mendengar kalimat ijab dari penghulu, awalnya menunduk tiba-tiba langsung tegap membisu. Matanya melirik ke seantero ruangan mencari sosok wanita yang disebutkan barusan. Nafasnya terengah-engah. Jantungnya berirama tak karuan. Sampai akhirnya dia disadarkan oleh Ucapan Qobul kedua kalinya oleh penghulu.

 

“Wahai Dehaan Athaya Althezza Bin KH Ali Murtadzo , Aku menikahkan dan mengawinkanmu dengan perempuan bernama Aleta Queenna Cartwrigh binti Arthur Gaffrey Cartwright yang walinya mewakilkan padaku dengan maskawin satu set perhiasan, Al quran, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.” Ulang KH Nidhom Baihaqi dengan suara lebih lantang.


 

“Aku terima nikah dan kawinnya Aleta Queenna Cartwrigh binti Arthur Gaffrey Cartwright dengan mahar yang disebutkan tunai.” Ucap Gus Atha dengan senyuman manisnya sambil memejamkan mata khidmat.

 

“Bagaimana para saksi, sah?” Tanya Penghulu kepada kedua saksi.

 

“Sah.......” jawab semua hadirin serempak dengan kedua saksi.

 

Neng Aleta dipersilahkan maju, dia didampingi oleh Ayah dan Ibunya yang masih menyeka air mata. Begitu juga Abah dan Umi Gus Atha diminta maju untuk mendoakan dan memberikan restu kepada kedua mempelai, sekaligus berfoto bersama. Neng Aleta, membuka cadarnya, mendekat ke Gus Atha dan mencium tangannya. Gus Atha masih mengatur ritme nafasnya. Dadanya pun masih sesak dengan kenyataan manis ini. Dia memberanikan diri mencium kening Neng Aleta, Gadis yang selalu ia tangisi dalam doa-doa. Senyum tersungging di antara keduangnya.

 

Ibunyai kemudian meminta operator untuk memutarkan sebuah video yang merangkum pertemuan dengan Aleta di Inggris, kemudian ketika sampai di Indonesia dan berbincang dengan Gus Atha, perjalanan Aleta menuju Indonesia, dan kegusaran Gus Atha yang mengira bahwa calonnya bukan Aleta. Ternyata Ibunyai mendokumentasikan momen-momen menegangkan itu dengan baik. Hampir semua hadirin ikut haru dan menitikkan air mata mendengar sedikit penjelasan Ibunyai di akhir video tentang kisah cinta mereka yang saling menjaga kesucian dengan jarak yang tak pernah ingin mereka atur. Mereka berdua hanya pasrah dan ikhlas akan takdir Tuhan pada mereka. Dan Akhirnya lewat pertemuan bisnis lahir nya akhir kisah cinta yang manis.

 

****

 

Adinda Aleta, Aku ingin mencintaimu seperti mata mencintai penglihatannya, seperti telinga yang mencintai pendengarannya, seperti lidah yang mencintai indra pengecapnya, dan seperti hidung yang terus mencintai indra penciumannya. Mereka senantiasa menyatu, berikatan, dan tak bisa terpisahkan. Aku maunya seperti itu denganmu.

 

****

 

Athaya, My Dear Husband. My love is completely simple. I love you. And I'll love you over and over and over. Without pause, without a doubt, in a heartbeat, I'll keep loving you".


 

 

 

Mas Athaya, Suami tercintaku. Cintaku sangatlah simpel. Aku mencintaumu. Dan aku akan mencintaimu lagi, lagi dan lagi. Tanpa henti, tanpa ragu, dalam sekejap, aku akan terus mencintaimu

 

TAMAT


1 komentar untuk "Lanjutan III Cerpen "Titik Temu""

Berlangganan via Email