Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

LANGIT TAMPAKKAN DESAIGN LAMBANG NU



LANGIT TAMPAKKAN DESAIGN LAMBANG NU


Sebelum masuk dalam pembahasan, mungkin di benak pikiran anda terlintas pertanyaan. Kok bisa ? bagaimana alur ceritanya ? siapa yang melihat ? dan kapan itu terjadi ?.  Nah, sebenarnya judul  yang tercantum, merupakan salah satu kisah pencetus Lambang NU. Dulu, awal terbentuknya Jam’iyah Nahdlotul Ulama’ pada tahun 1926 Jam’iyah itu masih belum memiliki simbol sebagai identitas besarnya. Bahkan pada Muktamar/kongres I masih belum memiliki simbol. Lantas, bagaimana kisah pencetus Lambang NU dalam mencari Inspirasi simbol yang tepat ? Berikut Kisahnya :
Di kutip dari karya Mohammad Khusnu Milad, M.MT. (Gus Milad) dalam Buku “Kiai Organisatoris Membangun NU Bersama KH. Mahfudz Siddiq”  Menjelang 2 bulan Muktamar Ke 2 diselenggarakan NU masih belum memiliki lambang khusus, kedaan ini membuat KH Abdul Wahab Hasbullah Yang pada waktu itu menjadi ketua panitia penyelenggara Muktamar Ke 2  cemas. Kecemasan  itu membuat  KH Abdul Wahab Hasbullah mengadakan pembicaraan 4 mata dengan KH Ridwan di rumahnya Jalan Kawatan Surabaya.
Pada mulanya, pembicaraan itu membahas konsumsi Muktamar / kongres yang pada waktu itu KH Ridwan sendiri memimpinnya. Kemudian pembicaraan beralih kepada pembuatan desaign Lambang NU sebagai identitas besarnya sekaligus sebagai mitos. KH ridwan selama itu memang dirasa salah satu Ulama’ yang memiliki bakat melukis. Karena hal tersebut,  akhirnya Kyai Wahab menyuruh untuk membuat lambang NU. Tentunya permintaan yang mendadak itu KH Ridwan sulit menerima, tetapi demi berkhidmat di NU,  akhirnya KH Ridwan menyepakati permintaan Kyai Wahab.




Bermula dari sinilah KH ridwan mencari inspirasi dan terus berjuang berkali kali  membuat sketsa lambang yang di buat dengan hati hati, ketelatenan besar, dan penuh kesabaran. Namun, perjuangan tersebut dirasakan masih belum cocok di hati. Akhirnya KH ridwan butuh satu bulan untuk merenungkan saking hati hati dan ingin mendapatkan gambar yang terbaik. Padahal kongres udah di depan mata.
Satu minggu menjelang Kongres/Muktamar diadakan Kyai Wahab datang menagih peasanan lambang yang di maksud. Dari sini ada sedikit perbincangan antara Kyai Wahab dan Kyai ridwan. Saat di Tanya oleh Kyai Wahab, Kyai Ridwan Menjawab, “Sudah beberapa sketsa lambang NU dibuat, tapi rasanya masih belum selesai.” Mendengar dari jawaban itu, kyai wahab mendesak lalu mengatakan “Seminggu sebelum Kongres sebaiknya gambar sudah jadi lho” Mendengar jawaban itu dengan ketidakpastian Kyai Ridwan Mengatakan “Insya Allah”.
Dari perbincangan tersebut, dan dengan waktu yang sangat sempit. Akhirnya Kyai ridwan melakukan shalat istikharah, meminta petunjuk kepada Allah dan Qiyamullail untuk mencari inspirasi yang baik untuk Lambang NU. Dalam tidurnya  Kyai Ridwan menddapatkan petunjuk dari mimpinya yaitu melihat gambar di langit biru, bentuknya persis seperti lambang NU sekarang. Ketika itu, waktu menunjukkan jam 02 dini hari. Setelah Kyai Ridwan bangun dari tidurnya, sontak Kyai ridwan langsung mengambil kertas dan pena sambil mengingat sebuah gambar yang ada dalam mimpinya. Dengan hati hati dan pelan pelan Kyai Ridwan mencoba memvisualisasikan gambar di mimpinya itu. Tak lama kemudian gambar tersebut jadi dan sangat mirip dengan gambar dalam mimpinya.
Pagi harinya, sketsa kasar tersebut disempurnakan dan diberi tulisan Nahdlotul Ulama’ dari huruf Arab dan Latin. Akhirnya, sehari penuh gambar tersebut dapat diselesaikan dengan sempurna. Namun masih ada kesulitan berikutnya yaitu bagaimana mencari bahan kain untuk menuangkan lambing tersebut sebagai dekorasai dalam medan kongres. Saat mencari kain di wilayah Surabaya, ternyata tidak menemukan yang cocok seperti petunjuk mimpinya semalam. Dengan gigih dan pantang menyerah serta tidak putus asa, Kyai Ridwan mencari hingga ke Malang. Alhamdulillah, kain yang dicari ternyata ada kendati hanya tersisa 4 X 6 meter. Bentuk lambing NU dibuat memanjang ke bawah, lebar 4 meter dan panjang 6 meter. Inilah bentuk asli lambang NU sekaligus ukurannya kala itu.


Menjelang pembukaan, symbol NU telah dipasang di arena Kongres. Adanya symbol baru itu menambah keindahan suasana. Ketika acara dibuka dan peserta yang berjumlah 18 ribu diperkenalkan dengan symbol jam’iyah itu, mayoritas orang berdecak kagum. Symbol tersebut memang dinamika abad ke 19 karena pada perjalanan berikutnya terjadi dinamika yang demikian menarik sesuai dengan semangat zaman yang bergerak menuju kemajuan serta didorong semangat perjuangan.

Begitulah kisah perjuangan Kyai Ridwan dalam mebuat sketsa lambang NU. semoga seluruh pengabdiannya serta amal sholehnya di terima di sisi allah. Aminn ya robbal’alamin.
Jadi, tidak heran jika Jam’iyah Nahdlotul Ulama’ tetap tegar dan menjadi ormas terbesar di Indonesia. Masih banyak kisah kisah beliau para Muassis dalam membentuk Jam’iyah NU. Tidak semudah mengedipkan mata dan membalikkan tangan. Tapi, ada perjuangan, kegigihan, ketelatenan, ke hati hatian, serta penuh banyak cobaan dan rintangan di  dalamnya.

Oleh : Mahfud Ali ( Kelas 5 Madin & Kelas 3 SMA Sunan Giri )


Berlangganan via Email